Sabtu, 13 Juli 2013

Biografi Georg Cantor

Biografi Georg Cantor (1845 -1918) - Georg Cantor adalah ahli matematika Jerman, penemu teori himpunan, penemu konsep bilangan lewat terhingga (transfinit), doctor, guru besar dan pengarang. Ia lahir di St Patersburg sekarang Leningrad Rusia, pada tangal 3 Maret 1845 dan meninggal di Halle, Jerman, pada tanggal 6 Januari 1918 pada umur 73 tahun karena sakit jiwa, sebab teorinya ditentang para ahli matematika sezamannya. Ayahnya saudagar kaya-raya dan beragama Protestan. Ibunya berasal dari keluarga pemusik dan beragama Katolik. Sejak kecil ia bersekolah di SD Swasta. Ayahnya menginginkan Cantor jadi insinyur.

Biografi Penemu Teori Himpunan, Georg Cantor 

Ketika Cantor berumur 11 tahun, ayahnya meninggal. Dengan demikian ia dapat menentukan cita-citanya sendiri meskipun bertentangan dengan keinginan ayahnya. Sesudah tamat SD Cantor pindah ke Frankfurt, Jerman. Ia melanjutkan sekolahnya di Darmstadt dan Wiesbaden, lalu kuliah sebentar di Universitas Zurich, Swiss. Kemudian ia pindah ke Universitas Berlin. Disini ia belajar filsafat, fisika dan matematika. Dosen-dosennya yang terkenal adalah Welerstrass, Kummer dan Kronecker.

Pada umur 22 tahun ia mendapat gelar doctor. Tesisnya berjudul "Dalam matematika, bertanya lebih berharga dari memecahkan soal". Kemudian ia bekerja di Universitas Halle sampai akhir hidupnya. Mula-mula ia  hanya digaji sebagai dosen tak tetap. Pada umur 27 tahun ia diangkat jadi guru besar pembantu. Baru pada umur 34 tahun ia diangkat jadi guru besar tetap. Cantor kawin pada umur 29 tahun di Interlaken, Swiss, dengan Valley Guttman. Meskipun gajinya kecil, ia dapat membangun rumah untuk istri karena mendapat warisan dari ayahnya.

Pada tahun 1873 pada umur 28  tahun, Cantor mengumumkan teorinya.Selama 10 tahun ia terus-menerus menyebarluaskan teorinya dalam tulisan- tulisannya. Teori himpunan danKonsep Bilangan Transfinit-nya menggemparkan dunia matematika. Tapi penemuannya itu tidak menguntungkan Cantor. Ia mendapat tantangan hebat dari ahli-ahli matematika pada waktu itu, terutama dari bekas gurunya, ialah Kronecker. Ia merasa lebih berjasa. Ia merasa telah bekerja keras. Ia merasa telah menemukan teori matematika yang besar. Ia mengharapkan penghargaan. Ia menginginkan pengakuan. Tapi apa yang ia terima malah dampratan, kecaman  pedas, dan penghinaan. Ia sama sekali tidak menduga akan mendapat sambutan semacam itu. Ia sangat terkejut. Ia jatuh sakit. Ia terpaksa dirawat di rumah sakit jiwa sampai ajalnya. Namun zaman sekarang hampir seluruh orang didunia menerima Teori Himpunan-nya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar